Sebuah Pesan Untukmu

Berdiri tegak di tengah badai,
layaknya batu karang terhempas ombak.
Begitulah seharusnya kekuatan seorang lelaki sebagai kepala keluarga.

Kalimat di atas bukan memaknai perjalanan sebuah rumah tangga itu bagai badai. Namun lebih pas, jika dikatakan rumah tangga ini layaknya kapal di tengah lautan. Ke arah mana kapal menuju, tergantung pada keputusan sang nahkoda. Seorang suami adalah nahkoda rumah tangganya.

Untuk itu wahai perempuan yang sedang menanti datangnya jodoh.
Pesan ini kubuat untukmu seorang.

Suami itu bukan perhiasan yang harus indah untuk dipajang.
Suami itu bukan mesin ATM yang terus menerus mengeluarkan uang.

Apa yang paling penting?
Seorang suami harus memahami agama agar ia dapat membimbing keluarganya menuju kebaikan.
Kemudian, seorang suami harus menyayangi ibunya. Lelaki yang menyayangi dan menghormati ibunya, pasti akan menyayangi keluarganya.
Selanjutnya, seorang suami harus bisa memenuhi nafkah lahir dan batin istrinya. Artinya, ia harus mandiri secara finansial, berdiri sendiri tidak bergantung pada orang lain.
Yang tidak kalah penting, seorang suami harus bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Pernikahan itu tidak seindah bayangan film-film romantis. Dalam pernikahan akan ada pasang surut, layaknya keimanan seseorang. Akan ada ujian-ujian kecil dan besar yang akan membuatmu kadang meragukan kemampuan untuk mempertahankan kebersamaan bersamanya.

Di saat-saat seperti ini, sangat penting bagimu untuk mengingat kembali, alasan utamamu dulu memilihnya sebagai imam.
Mengingat kembali, kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukannya untuk mendapatkan senyum manismu.
Mengenang lagi, kebodohan-kebodohan kecil yang membuatmu selalu merindukan kehadirannya di sisimu.

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *