Opposite Attraction

Kadang manusia memang aneh.
Biasanya merasa tertarik pada satu hal yang tidak dimilikinya.
Opposite Attraction, kerennya begitu.
Tertarik karena berbeda.

Begitulah, lelaki kodratnya diciptakan tertarik pada perempuan.
Karena apa yang tidak dimilikinya ada dalam diri orang lain.
Keras, tegas, bak bidang datar, begitulah lelaki.
Lembut, berlekuk, bak bantal bulu angsa, demikian adanya perempuan.

Keduanya saling melengkapi satu sama lainnya.
Berkolaborasi dalam pernikahan karena Allah atas nama cinta.

Dalam perjalanannya tentu tidak mudah.
Lelaki terbiasa berpikir menggunakan logikanya.
Perempuan terbiasa merasa menggunakan hatinya.
Keduanya seringkali tidak bertemu pada titik yang sama.

Lelaki butuh argumen lengkap dengan data pendukung untuk memutuskan sesuatu.
Perempuan seringkali hanya melihat dengan mata hatinya untuk mengambil sebuah keputusan.
Yang satu berbicara tentang fakta.
Yang lain bercerita soal rasa.

Entah bagaimana keduanya bisa menemukan kata sepakat.
Mungkin itu indahnya cinta.
Tidak perlu dimengerti.
Hanya butuh dipercaya.

Sampai tiba masanya semua terasa berat dan kelam.
Tidak ada kecocokan menjadi alasan.
Padahal jelas-jelas yang membuatnya berwarna adalah Opposite Attraction.
Menjadi tertarik karena berbeda.

Bertemu karena perbedaan.
Lalu memutuskan berpisah pun karenanya.
Manusia memang aneh.
Mendekati yang jauh, dan menjauh dari yang terdekat.

Mencari yang tak nampak.
Yang depan mata malah terlupakan.
Berkelana mencari mutiara di tengah lautan.
Intan permata di hadapan ditinggalkan begitu saja.

Jangan bilang cinta kalau tak mau berusaha.
Karena cinta adalah salah satu bentuk kerja.
Upahnya berupa rasa dalam hati.

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *