Menahan Lisan dan Tulisan

انظر ما قال ولا تنظر من قال
undzur maa qoola walaa tandzur man qoola
“Lihat apa yang disampaikan namun jangan lihat siapa yang menyampaikan.”

Ini bukan ayat Alquran, bukan pula hadis Rasulullah. Ini adalah sebuah pepatah Arab. Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihatlah apa yang disampaikan.

Perkataan baik, sebuah masukan baik, walaupun dikatakan oleh orang yang menurut kita kurang baik, tetaplah sebuah masukan yang baik.
Perkataan baik, sebuah masukan baik, walaupun dikatakan dengan cara yang kurang baik, tetaplah sebuah masukan yang baik.

Jika!
Jika kita mau menerima masukan tersebut dengan lapang dada.
Jujur saja, hal ini sangat mudah diucapkan dan dituliskan. Dan harusnya semudah itu juga kita memraktekkannya.
Kenyataannya?
Silahkan dijawab di dalam hati masing-masing.

Saat menuliskan tulisan ini, saya sedang berjuang menahan lisan dan tulisan saya, agar tidak menghakimi seseorang yang memiliki pendapat yang sering kali berseberangan dengan saya.
Sulit… karena sulit inilah saya berusaha menuliskannya dengan perspektif lain, sehingga saya mendapat manfaat dari yang dikatakannya.

Seorang guru saya pernah berkata, “Tidak ada satu kejadianpun hadir dalam kehidupanmu, melainkan kamu mengundangnya secara sadar ataupun tidak.”

Atau ada juga guru saya yang mengatakan, “Semua langkah yang engkau ambil merupakan ketetapan Allah.”

Lalu mana yang benar? Semuanya benar.
Bukankah Allah pernah berfirman dalam sebuah hadist qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.”

Selalu berprasangka baik pada Allah, selalu memikirkan hal-hal baik tentang masa depan, selalu memikirkan sisi yang bisa diambil pelajaran dari setiap peristiwa. Supaya apa?
Supaya Allah sesuai dengan sangkaan kita, supaya semua hal yang terjadi dalam hidup dan kehidupan kita sesuai dengan apa yang kita rasa dan pikirkan.

Kembali lagi ke topik menahan lisan dan tulisan.
Beberapa hari ini saya begitu ingin menuliskan dan menuangkan pikiran-pikiran saya dalam bentuk kata-kata yang mendebat pernyataan-pernyataan seseorang. Ketik hapus, ketik hapus, ketik hapus. Begitu berulang kali saya lakukan.

Tiap kali saya ingin memencet tombol ‘kirim’, saya kembali berpikir.
Apakah tulisan saya ini bermanfaat untuk orang yang membaca atau hanya sekedar ingin memuaskan ego saya berdebat dengan orang tersebut?
Apakah tulisan saya ini dibuat semata-mata untuk kepentingan orang banyak atau hanya sekedar ingin memperlihatkan pada dunia bahwa sayapun bisa berpendapat menggunakan kata-kata yang terlihat cerdas?

Pertanyaan inilah yang sering kali membuat saya batal menekan tombol ‘kirim’ dan cukup puas karena saya sudah menumpahkan unek-unek saya dalam bentuk tulisan yang kemudian saya hapus atau masuk ke dalam ‘trash bin’. Lalu saya bertanya pada diri sendiri, pelajaran apa yang sedang dibawa orang ini, sehingga ia datang dalam kehidupan saya?

In syaaa Allah kehadirannya membawa saya semakin dekat dengan cahaya Tuhan dalam diri saya. Terima kasih sahabat.

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *