Hijrah, Sebuah Permainan Rasa

Dalam tulisan kali ini, saya masih akan membicarakan tentang hijrah, masih berhubungan dengan tulisan saya yang ini.

Sesungguhnya hijrah hanyalah sebuah permainan rasa di dalam hati.
Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Izinkan saya untuk menceritakan apa yang ada dalam benak saya saat ini.

Aku adalah sebaik-baiknya sangkaan hamba-Ku.”
~ HR Muslim

Hadist inilah asal muasal pernyataan saya di atas. Ini adalah ‘perintah’ untuk berbaik sangka kepada Allah SWT.

Bagaimana cara berbaik sangka pada Allah SWT?
Mungkinkah hal ini dilakukan? Tentu saja mungkin.

Kita ambil contoh sederhana ya…
Anda setiap saat, selalu berbaik sangka pada mbah google. Selalu percaya 100% bahwa mbah google memberikan jawaban atas setiap pertanyaan Anda.
Coba Anda ingat-ingat kembali, bagaimana perasaan Anda saat itu. Galau, gelisah, takutkah? Kalau-kalau Anda tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Nah, mari mencoba menggunakan perasaan yang sama saat Anda bertanya, memohon, meminta pada Allah. Ini adalah cara paling mudah untuk mulai berbaik sangka pasa Sang Maha Pemberi Jawab. Jika Anda sudah pernah melakukannya, tentunya Anda bisa melakukannya lagi pada hal yang berbeda.

Semua dimulai dengan menaruh harapan dalam berdoa dan bertaubat. Berbaik sangkalah bahwa doamu akan dikabulkan. Berbaik sangkalah bahwa setiap inginmu akan dipenuhi. Berbaik sangkalah bahwa jika permintaanmu belum dikabulkan, akan ada penggantinya yang lebih baik. Berbaik sangka pada Allah semata hanya menaruh harapan dan percaya bahwa yang kita akan diberikan yang terbaik oleh Yang Maha Baik.

Lalu di mana letak permainan rasanya?
Ingat kembali perasaan yang Anda gunakan pada mbah google.
Saat berdoa, apakah kita masih ragu bahwa permintaan kita akan dipenuhi?
Atau saat berdoa, pikiran kita sudah dipenuhi dengan rasa syukur yang dalam bahwa permintaan kita akan dipenuhi dan diberikan yang terbaik?
Seperti halnya kita meminta pada mbah google.

Untuk menghilang segala bentuk perdebatan atau perselisihan, dalam tulisan ini saya tidak menyetarakan google dengan Yang Maha Kuasa, sekali lagi tidak. Yang saya lakukan hanyalah, menelaah rasa yang digunakan saat berhubungan dengan google dan menggunakannya kembali saat berdoa.

Berbaik sangka pada Allah, bukan semata berdoa dan berharap. Namun kita perlu menghadirkan rasa syukur bahwa doa yang kita panjatkan telah dikabulkan-Nya. Kehadiran rasa syukur ini akan menguraikan lebih banyak lagi rasa bahagia dan serba kecukupan, sehingga akan mengundang rasa-rasa yang sejenis.

Lalu bagaimana jika hal ini sulit dilakukan? Bagaimana mungkin kita membayangkan hal-hal yang belum terjadi?

Mulailah dengan menghitung nikmat-nikmat kecil yang kita peroleh sejak bangun tidur hingga saat ini. Dengan menyadari begitu banyak nikmat kecil yang hadir dalam hidup dan kehidupan kita, secara otomatis akan mengundang kehadiran rasa syukur yang dalam. Selanjutnya mulailah berdoa dengan kehadiran rasa syukur yang telah Anda undang secara sadar. Memulai hijrah dengan mengubah rasa yang ada di dalam hati.

Tulisan ini masih merupakan rangkaian dari tulisan sebelumnya Hijrah, Bukan Sekedar Berpindah Tempat

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *