Hijrah Dan Jodoh Impian

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat berapi-api membicarakan hal ini. Beberapa orang bilang, saya menumpahkan unek-unek. Ya, biarlah mereka mau bilang apa, saya tetap akan menuliskan apa yang membuat saya bersemangat.

Masih tentang hijrah atau move-up.
Kali ini, kita akan bicara tentang mantan, ya… mantan. Si dia yang polahnya kadang membuat jantung berdebar begitu keras. Si dia tempat kita berbagi mimpi tentang masa depan. Si dia yang kita harap menjadi pasangan kelak di surga. Si dia yang membuat kita memanjatkan doa seperti ini.

Ya Tuhan…
Jika dia adalah jodohku permudahlah jalan kami.
Jika dia bukan jodohku, jadikanlah dia jodohku.
Jika dia berjodoh dengan orang lain, putuskanlah dan jadikan dia jodohku.

Tapi sekali lagi, itulah sebutannya mantan, M-A-N-T-A-N.
Yang masih suka kita ingat segala bentuk perhatiannya. Yang masih lekat di telinga janji manis yang diucapkan.
Ah, itu semua terjadi di masa lalu. Tapi kenapa sakitnya masih terasa sampai hari ini.
Kenapa, oh kenapa? Kapan gelisah, galau, gulana ini hilang ditelan bumi?

Kabar buruknya, rasa itu tidak akan hilang.
Kabar baiknya, kita bisa mengubah persepsi kita terhadap rasa yang pernah ada.
Mungkinkah ini dilakukan?
Tentu saja mungkin, sesuai dengan janji Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 5, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.”

Kita hanya punya dua pilihan, hanyut atau move-up?
Kalau kita memilih terhanyut dalam rasa, gagal move-on begitu katanya, sama artinya kita menafikan rejeki kemudahan yang dijanjikan Allah.

Lalu bagaimana caranya move-up?
Dengan pengumuman sama dunia, kita sudah pindah ke lain hati. Posting status di sosmed tentang nikmatnya jadi jomblo, tapi terus galau lagi kalau liat foto mantan berseliweran di lini masa sosmed.
Itu bukan move-on, apalagi move-up! Tapi hanya acting, pura-pura nggak peduli.

Apa bedanya move-on dengan move-up?
Move-on, hidup Anda berlanjut di level yang sama, kurang lebih sama.
Sedangkan move-up, Anda memaksa diri untuk segera naik kelas. Lebih baik dari kemarin.
Ini kenapa saya lebih suka menggunakan kata move-up.

Move-up dari mantan ini hanya soal hijrah, mengubah rasa yang ada di hati.
Bukan dari suka jadi benci.
Bukan dari sayang lalu hilang.
Tapi membuka hati dengan ikhlas dan percaya ada orang yang lebih baik sudah disediakan Allah untuk kita.

Buat penulis, sesungguhnya sangat gampang untuk move-up. Gampang banget!
Perhatiin dech, orang yang belum move-up tulisannya mesti galau, gelisah terus, hahaha (gak usah baper yak!)
Bagaimana mau move-up, kalau melalui tulisan kita masih mengundang rasa yang kontraproduktif dengan keinginan kita. Sudah pada tahu kan, kalau rasa itu seperti magnet. Rasa hanya menarik yang sejenis. Bahagia hanya menarik keindahan, suka cita, kasih sayang, dan lebih banyak cinta.

Saya kasih tahu rahasianya ya…
Tapi ini cukup di antara kita aja, nggak perlu kasih tahu tetangga.
Mau buruan move-up, dapat pengganti si mantan yang terus mengganggu nalar dan logika? Tuliskan saja impianmu tentang pasangan masa depan. Cerita dengan detil dan seksama dalam setiap tulisanmu. Undang dirinya hadir, menemanimu dalam setiap tulisan. Deskripsikan rasa yang hadir senyata mungkin. Keuntungan Anda sebagai penulis adalah orang tidak tahu, Anda menuliskan imajinasi atau sebuah kisah nyata. Tuliskan saja terus… Karena tulisanmu bisa jadi satu bentuk doa yang didengar dan dikabulkan-Nya.

Lalu, bagaimana jika Anda bukan penulis?
Kabar baiknya, Anda sudah belajar bahasa Indonesia sejak duduk pertama kali di bangku sekolah. Tuliskan saja cerita indah Anda. Simpan jika Anda tidak ingin orang lain membacanya. Tapi saran saya, bagikan tulisan Anda agar semakin banyak orang yang mengamini doa Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *