Hijrah, Bukan Sekedar Berpindah Tempat

Mungkin saja Anda tidak percaya kalau saya katakan, sejak dulu Allah itu sudah mengajarkan umat-Nya untuk move-up.
Hah? Serius…

Ok, saya ambil contoh sederhana ya.
Saat Rasul perintahkan untuk melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah, karena suasana di kota Makkah sudah tidak lagi kondusif untuk melakukan dakwah penyebaran agama Islam. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih dalam alasan mengapa ada perintah hijrah. Terus terang saja, ilmu saya masih sangat cetek untuk membahas hal ini secara lebih dalam. Saya hanya akan berbagi insight yang didapat dari kisah ini.

Kok hijrah malah dibilang move up?
Iya, kenyataannya setelah Rasul hijrah ke Madinah, penyebaran agam Islam semakin berkembang pesat dan dilakukan secara terang-terangan. Perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah membawa ajaran Islam ke tataran yang lebih tinggi lagi. Tapi apakah hijrah hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat saja?
Untuk saya tidak demikian. Pengertian hijrah tidak hanya sekedar perpindahan tempat, lebih dalam lagi hijrah dimaknai sebagai perpindahan, apapun bentuknya. Mulai dari yang paling sederhana, yaitu perpindahan tempat hingga perpindahan rasa.

Perpindahan rasa, cemilan macam apa ini?
Menurut hemat saya pribadi, perpindahan rasa adalah bentuk hijrah yang paling sederhana, namun paling sulit untuk dilakukan.

Ambil contoh ya.
Saat Anda sedang berdiskusi dengan rekan atau pasangan Anda, dengan mudah Anda akan terseret ke dalam debat kusir yang tak berujung. Berawal dari merasa pendapatnya yang paling benar, dan sulit untuk menerima ada pendapat yang berbeda.
Sederhananya saat Anda mulai merasa percakapan akan berujung pada sebuah debat kusir, hijrahlah. Ubah cara pandang Anda terhadap objek dan teman diskusi. Beralih dari keinginan untuk memenangkan sebuah perdebatan, pindah pada keinginan untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan jika memungkinkan win-win solution bagi semua orang.

Dengan mengubah cara pandang Anda terhadap sesuatu, akan ada masukan baru yang mungkin didapat dari mengamati cara dan gaya teman diskusi Anda. Kata-kata yang tidak diucapkan seringkali berteriak keras melalui sikap, perilaku, mimik wajah, intonasi dan kata-kata yang dipilih.

Jika sejak awal Anda sudah menyadari kebutuhan untuk melakukan hijrah, lakukan saja. Tentunya hal ini membutuhkan latihan keras untuk menjinakkan ego yang kerap kali muncul di saat-saat seperti ini. Dengan demikian, Anda lebih dapat menerima pendapat dan masukan dari orang lain, tanpa dibebani oleh ego untuk menang.

Comments

  1. Pingback: Hijrah, Sebuah Permainan Rasa – niDhea.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *