Hijrah, Belajar Dari Langit

Hijrah adalah soal perubahan.
Perubahan tempat tinggal, perubahan tujuan hidup, perubahan cara berpikir, perubahan suasana.
Hijrah hanyalah soal merangkul perubahan untuk masa depan yang lebih baik dari hari ini.

Menolak melakukan perubahan dalam hidup, sama artinya menolak kehidupan itu sendiri.
Karena satu-satunya hal yang tetap dalam hidup adalah perubahan.
Perubahan membuat hidup lebih berwarna.

Tengok saja langit, warnanya berubah dari waktu ke waktu.
Saat matahari terbit, warnanya beranjak dari gelap menjadi kemerahan membara. Sementara saat tiba waktunya mentari terbenam, langit merona dengan berbagai nuansa merah, oranye, dan violet. Kemudian perlahan menjadi gelap pekat seolah menelan apapun yang dilemparkan ke arahnya.

Belajar dari langit, begitulah kehidupan.
Kadang biru bersih bersinar, namun di saat yang lain menggayut awan kelam yang membawa guntur dan hujan.
Saat langit kelam, kita bisa yakin bahwa esok mentari akan menampakkan sinarnya menghangatkan penjuru bumi.
Bahkan di saat badai tiada henti, kitapun bisa meyakinkan diri, di ujung sama ada pelangi yang membuat hari menjadi lebih indah.

Hijrah adalah soal perubahan.
Bahwa kehidupan bukan hanya berwarna hitam. putih dan abu-abu.
Namun ada semburat pelangi yang bermain dan membuat tersenyum siapapun yang menemukannya.

Melakukan hijrah berarti kita menyelipkan asa dalam hidup dan kehidupan kita.
Menjanjikan setiap kejadian di antaranya menjadi lebih bermakna.
Menangkap makna dari setiap peristiwa, itulah yang menjadi hijrah penuh dengan pengalaman emosional.

Tidak semua peristiwa yang hadir dalam hidup dan kehidupan kita akan membuat senyum indah merekah di bibir.
Ada juga pengalaman-pengalaman yang menguras air mata dan meninggalkan bekas mendalam dalam hati.
Itulah yang membuat kehidupan menjadi penuh arti.
Selalu ada harapan yang berkata, “Ayo tersenyum, pastikan esok lebih baik dari hari ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *