Bagaimana Caranya?

Di dunia nyata, di bisnis, di sekolah, di manapun saya berada, sering kali mendengar pertanyaan model begini, “Bagaimana caranya?”

Sejujurnya, saya biasanya paling bingung kalau dikasih pertanyaan seperti ini.
Buat saya, jawaban dari pertanyaan ini kadang adalah se-simple, “Ya, lakukan saja.”
“Iya, tapi gimana?”
Balik lagi ke pertanyaan yang sama, hehehe…

Ada beberapa hal dalam hidup yang panduannya sudah jelas, jadi kita tinggal mengikuti panduan untuk melakukannya. Ini biasanya untuk hal-hal yang seringkali bersifat ritual atau rutinitas harian.
Tapi banyak juga, hal-hal ajaib yang hadir dalam hidup dan kehidupan kita, tanpa buku panduan yang menyertainya?

Kalau gini gimana?
Untuk hal-hal yang sering kali berhubungan dengan hati dan rasa, buat saya jawabannya tetap, “Ya lakukan saja.”

Contohnya nih…
Pertanyaan yang sering diajukan oleh para downline saya adalah “Bagaimana kalau prospek menolak? Bagaimana supaya saya pede menjelaskan ke prospek?”

Jawabannya bisa jadi panjang nih ๐Ÿ™‚
Bagimana supaya jadi pede?
Kata seorang guru saya, “Fake it until you make it.
Kata guru yang lain, “Mencontohlah dengan baik.”
Guru yang lain lagi bilang, “Lakukan saja tanpa harus berpikir hasil.”

Semuanya berujung pada, “Ya sudahlah, lakukan saja yang terbaik.ย Kita tahu sudah melakukan yang terbaik, kita tau bahwa kita sudah berusaha sebaik yang kita bisa lakukan saat ini.”

Lalu bagaimana kalau ditolak?
Bagaimana kalau hasil belum sesuai harapan?
Saya malah akan balik bertanya, “Kenapa harus resah?”

Setiap hari kita melakukan persetujuan, sekaligus penolakan, setiap saat!
Lalu kenapa kalau penolakan itu adalah hal biasa yang kita temui tiap hari, rasa sakitnya nyata. Sakitnya tuh di sini! #nunjukdada

Ini hal lain lagi untuk dibahas.
Rasa gak nyaman akibat penolakan terjadi, karena kita terlalu melekat sama hasil. Kita terlalu ingin mengatur hasil. Kita terlalu mau hasil sesuai dengan harapan.

Lha, dalam hidup yang bisa kita kontrol hanyalah aksi dan rasa yang kita lekatkan pada setiap tindakan yang kita lakukan.
Hasil? Sudah bukan urusan kita lagi, karena ini terkait pada banyak hal
termasuk tindakan, rasa, dan kebutuhan orang yang kita ajak berkomunikasi.

Ini belum masuk variable, “Manusia hanya bisa berusaha, dan Allah yang menentukan.”
Bukan lalu menyalahkan Allah atas hasil yang belum sesuai harapan. Tapi setiap peristiwa itu akan terjadi, kalau diijinkan oleh Allah. Dan kalau sebuah peristiwa sudah terjadi artinya itulah yang terbaik yang perlu kita hadapi menurut Rabb Yang Maha Tahu.

Kalau itu yang terbaik lalu kenapa rasanya tetap sakiiiit?
Lha, terbaik itu bukan berarti harus selalu menyenangkan. Terbaik itu bisa berarti ada pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut.

Jadi, penolakan berarti pelajaran baru yang bisa diambil.
Berbahagialah ๐Ÿ™‚
Pastikan ada pelajaran yang bisa ditarik dari sana.
Lalu kenapa harus galau?
Move up donk, biar bisa semakin baik setiap hari.

Nikmat mana yang kau dustakan?

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *