Ada Terlalu Banyak Pilihan, Pilih Yang Mana?

Pertanyaan ini sering kali saya dengar, di manapun. Iya, di manapun.
Mulai dari rumah, galau mau pake baju motif polkadot atau monochrome. Hingga mal, mau pilih wedges atau pump, atau se-simple milih mau masak apa, eh… beli masakan apa buat makan hari ini. Hahahaha…

Hidup adalah kumpulan dari jutaan kemungkinan pilihan.
Setiap hari, mulai dari bangun tidur, kita sudah dihadapkan pada pilihan.
Mau langsung bangun, atau masih mau narik selimut?

Buat beberapa orang, merasa itu bukanlah sebuah pilihan, karena mereka harus berjibaku di jalan raya menuju lokasi kerja masing-masing. Tapi hei, itu pun pilihan yang sudah dibuatkan?
Anda bisa saja bilang, “Saya harus masuk. Kalau hari ini tidak masuk kantor, nanti gaji dipotong, nanti di-PHK.”
Halo, mbaksis/masbro, itu adalah konsekuensi dari sebuah pilihan.

Kalau hari ini, Anda memilih untuk tidak masuk kerja, maka Anda akan kembali dihadapkan pada jutaan kemungkinan pilihan dan konsekuensi yang menyertainya.

Nah, dalam hidup ini tidak melulu semua hal tentang kita, tetapi juga ada orang lain. Kadang pilihan kita dipengaruhi oleh orang lain, atau kadang kita menerima konsekuensi dari pilihan orang lain.

Di jalan raya, seorang pengemudi motor, memutuskan untuk nyelip kanan-kiri, di antara mobil, akibat pilihan yang ia buat, kadang pemilik mobil yang menerima konsekuensi berupa mobil lecet, atau bahkan penyok.

Kadang, kita harus membuat pilihan yang tidak menyenangkan, artinya di antara jutaan pilihan yang tidak menyenangkan, kita masih harus memilih mana langkah yang efek tidak menyenangkannya lebih sedikit.

Di antara jutaan kemungkinan pilihan, kadang kita merasa harus mengambil langkah yang paling tidak kita sukai. Tapi masih ada satu hal yang bisa kita pilih, yaitu bagaimana cara menyikapi hal tersebut.

Seorang guru saya pernah bilang, sebuah peristiwa sejatinya adalah netral, namun pengalaman hidup dan keputusan orang yang mengalaminyalah yang memberi warna dan rasa. Kita bisa memilih rasa apa yang ingin kita lekatkan pada sebuah peristiwa, baik itu menyenangkan ataupun tidak.
Nulis beginian mah gampang, prakteknya beda cerita. Hahaha…

Lagi-lagi itu adalah sebuah pilihan. Pilih yang mana?
Manusia terbiasa memperbesar rasa-rasa negatif yang membuat hatinya kurang bahagia.
Diserempet motor, ngomelnya panjang lebar.
Sakit kepala hebat, cerita dengan penuh penghayatan.
Punya atasan menyebalkan, ceritanya pun dengan penuh kemarahan.
Padahal lagi-lagi ini adalah keputusan untuk memilih rasa apa yang ingin kita lekatkan pada peristiwa yang kita alami.

“Alah bisa karena biasa.”
Biasakanlah memilih rasa-rasa yang konstruktif untuk membuat hari-hari yang dilalui menjadi lebih menyenangkan. Keputusan itu ada di tangan kita, kitalah pengemudi kehidupan yang yang kita pilih. Mau lebih bahagai, maka putuskanlah untuk menjadi lebih bahagia saat ini. Syukuri nikmat-nikmat yang kita dapat dan rasakan setiap saat.

Hidup adalah lautan kemungkinan dan pilihan. Menjadi bahagia adalah salah satu pilihan.

Nikmat mana yang kau dustakan?

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *