Perjalanan Sebagai Orang Tua

Kerasnya dunia saat ini membuat orang tua membutuhkan usaha ekstra untuk menjaga anaknya. Walaupun yang terjadi sesungguhnya adalah sebagai orang tua, kita perlu mempersiapkan anak untuk tangguh saat berada di zamannya. Sama halnya, seperti orang tua kita dulu mendidik kita, agar menjadi tangguh saat ini.

Sekuat apa pun keinginan kita sebagai orang tua untuk mengatur cara berpikir anak, pada akhirnya kita hanya harus pasrah dan memahami, bahwa anak memiliki cara pandangnya masing-masing. Anak memiliki caranya menjalani dunia. Anak mempunyai pemikiran sendiri tentang apa yang harus mereka lakukan. Anak memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang mereka inginkan.

Lalu apa tugas orang tua?
Seorang guru saya menyatakan, tugas orang tua hanyalah mengarahkan, mengingatkan, dan menemani anak.

Mengarahkan anak
Seorang anak tidak tahu ke mana ia harus melangkah. Walaupun anak memiliki pikirannya sendiri, tapi mereka seperti kanvas kosong. Tugas orang tua adalah membuat outline, gambar seperti apa yang akan dihasilkan, karakter dan pribadi seperti apa yang ingin dibangun. Dan membiarkan anak mengisi outline yang telah disiapkan. Sekali waktu, mungkin mereka akan menggambar keluar dari outline, tapi tidak ada yang aneh dengan hal itu.

Mengingatkan anak
Saat anak mulai menggambar keluar dari outline adalah tugas orang tua untuk mengingatkan mereka. Duduk bersama melakukan evaluasi kembali, apa sebenarnya yang menjadi tujuan anak. Tugas orang tua memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membangun wawasan berpikir anak, agar pikirannya hidup dan dapat melompat ke depan. Berpikir melampaui zamannya, melihat ke masa depan.

Menemani anak
Perjalanan menjadi orang tua adalah perjalanan seumur hidup. Dan selama itu pula, orang tua bertugas menemani anak. Mendukung setiap keputusan yang diambil. Sesekali mempertanyakan mengapa ia mengambil pilihan A, bukan pilihan B. Sebagai teman, orang tua harus siap menjadi partner diskusi yang memiliki pikiran terbuka. Orang tua tidak selamanya benar, anak pun memiliki pikirannya sendiri. Jika tiba saatnya mereka harus menghadapi konsekuensi tidak menyenangkan dari pilihan yang diambil, temani mereka. Saat ini mereka membutuhkan dukungan lebih banyak lagi, bukan berbalik menjadi musuh dalam selimut yang menghajar teman di saat lengah. Di saat anak merasa terpuruk adalah tugas orang tua untuk membangkitkan semangatnya. Mengajak mereka diskusi untuk kembali mengingat, apa tujuannya ke depan.

Tidak mudah menjadi orang tua, tapi yang pasti akan menyenangkan.

Tulisan lain:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *