TwitterFacebookRSS

Looking At The Mirror

Beberapa hari yang lalu, saya sempat disemprot oleh sahabat yang kebetulan juga agent saya. Gini katanya, “Ya ampun Des, elo kan gw kirim amplop dibaca gak sih?”

sigh… meneketehe… itu yang saya pikir saat itu:-)

Teman saya itu ngomel panjang lebar, hehehe… karena info yang saya tanya itu, ditulis di amplop. Apalah artinya sebuah amplop saya pikir, karena abis surat-nya saya terima, amplop-nya saya buang. Toh nama pengirim-nya saya udah tau:-)
hehehe… githu pikir saya saat itu.

Tapi buat pengirim-nya, ternyata info yang ditulis di sana, adalah info penting yang diharapkan dibaca oleh penerima…

ini membuat saya berpikir ulang. inhale… exhale…

kenapa begitu?
artinya, selama saya masih tidak memperhatikan hal-hal detil di seputar kehidupan saya…

saya seharusnya tidak boleh marah, saat downline saya bertanya hal-hal yang jelas-jelas tertulis dalam Consultann Manual, dalam ebook, ataupun berbagai info yang dikirim.

saya seharusnya tidak boleh kecewa, saat partner bisnis saya bilang, aduh maaf mbak saya sibuk jadi belum sempet baca imel.

saya seharusnya tidak boleh patah hati, saat partner bisnis saya tidak konsentrasi pada bisnisnya bulan ini, after all ini bisnis mereka, bukan bisnis saya… iya kan?

Well, percakapan saya dengan sahabat saya hari itu, really really inspired me in a way that i never imagine before…

Saya harusnya berkaca sebelum beremosi

Related posts:

Jangan Mati Seperti Buaya
Dekat Dengan Impian
Upgrade Operating System